Kamis, 21 Februari 2013

fanatisme vs Anarkisme



Fanatisme Vs Anarkisme
Selain sebagai olahraga yang enak ditonton, sepakbola juga merupakan cabang olahraga yang dianggap lebih merakyat sebab baik dari kalangan bawah, menengah dan kalangan elitpun dapat menikmatinya. Karena kemerakyatannya itulah sepakbola menjadi salah satu olahraga yang paling besar peminatnya dibelahan bumi ini, khususnya apabila kita melihat ke dalam negeri, tentunya kita tidak asing lagi dengan istilah-istilah the jack mania (supporter persija Jakarta), bobotoh (persib bandung), aremania (malang), bonek mania (persebaya), serta masih banyak lagi organisasi-organisasi supporter lain yang menghiasi pesepakbolaan dinegri ini.
Kehadiran para supporter ini sering disebut-sebut sebagai pemain ke dua belas dalam sebuah pertandingan, fanatisme serta antusias mereka seakan memompa semangat para pemain dari tim pujaannya. Yel-yel serta nyanyian-nyanyian takkan pernah berhenti dari tiap mulut-mulut mereka, tak ayal kegembiraanpun muncul dari raut wajah mereka apabila tim yang mereka bangga-banggakan dapat meraih kemenangan, terlebih jika dapat menjadi juara turnamen. Konvoi, pawai, syukuran seakan menjadi ritual wajib yang harus tersaji untuk merayakan kesuksesan itu.
Namun keadaan kadang berubah drastis dari apa yang telah tergambar diatas, bilamana tim kebanggan mereka menelan kekalahan serta gagal merebut juara. Fanatisme yang sangat mendarah daging ditubuh mereka berubah menjadi anarkisme yang sangat menakutkan. Perusakan stadion, fasilitas umum, penjarahan warung-warung makanan bahkan  tawuran antar supporterpun tak dapat terelakkan lagi, yang kadang tak jarang mengakibatkan nyawa seseorang melayang percuma. Sungguh ironis apabila fenomena ini yang berkembang dalam negri ini, semangat nasionalisme akan hilang karena hanya kepentingan segelintir orang yang tak dapat menerima kegagalan secara dewasa. Lebih-lebih apabila hal negatif ini merembet pada persoalan politik, ekonomi, social dan sebagainya, sudah barang tentu akan semakin menambah kesedihan ibu pertiwi. Realita yang ada telah membuktikan bahwa tidak jarang dalam pemilihan-pemilihan kepala daerah disejumlah wilayah banyak terjadi kerusuhan-kerusuhan serta aksi-aksi anarki yang membabi buta, seolah tak dapat menerima kenyataan yang ada bahwa mereka berada dalam pihak yang kalah. Apabila hal ini terus menerus dibiarkan sudah barang tentu negri ini akan sangat mudah di adu dombakan dan tinggal menunggu waktu untuk kita saksikan keruntuhannya.
Fanatisme yang benar menurut hemat penulis ialah rasa kecintaan terhadap sesuatu yang dipuja-puja dengan sepenuh hati tanpa memandang keadaaan hal yang dipujanya itu  baik ataupun buruk, yang apabila dikaitkan dengan hal ini ialah persoalan kalah dan menang. Kalah dan menang dalam sebuah persaingan sudah barang tentu menjadi sesuatu hal yang wajar dan sudah semestinya diterima dengan lapang dan bijaksana. Fanatisme yang benar tentu akan semakin menambah rasa persaudaraan serta kesatuan dan persatuan antar elemen masyarakat dinegri ini yang sudah pasti akan membawa kemakmuran serta kesejahteraan negri ini kedepan. Inilah kesadaran yang perlu kita bangun bersama untuk mengarahkan kehidupan ini lebih baik dari yang pernah ada. Bangunlah negriku, bangunlah bangsaku, bangunlah tanah airku, bangunlah pertiwiku.