Selasa, 26 Juni 2012

siabus e-learning PBA




Overview screenshot


Silabus dan materi e-learning dlm pembelajaran bahasa Arab 2012 




Overview screenshot

1. 1. Memahami kerangka dasar materi dan sistem perkuliahan 


1.1 Mahasiswa mampu : A.   Mengetahui ruang lingkup materi e-Learning selama satu semester.


1.2 B.          Memahami materi dasar perkuliahan (motivasi, karakteristik, skenario, pengembangan e-Learning, dan pengembangan konten pembelajaran )


1.3 C.         Mengetahui strategi perkuliahan e-Learning


1.4 D.         Beradaptasi dengan aturan sistem perkuliahan.



Overview screenshot

2. 2. Memahami Personal Learning Environments Dan Definisi Awal E-Learning 


2.1 Mahasiswa mampu : a.    Menjelaskan konsep Personal Learning Environments


2.2 b.          Menjelaskan cara penciptaan Personal Learning Environments


2.3 c.          Menjelaskan definisi e-Learning menurut para ahli, diantaranya : Peterson, Darin E. Hartley, Glossary of e-Learning Terms, Rosenberg, Dong, Jaya Kumar C. Koran, Henderson, G. Chute, Pannen, Tafiardi, & pakar lainnya serta mengambil garis tengah dari definisi yang ada.



Overview screenshot

3. 3. Memahami Blended Learning & pokok - pokok Kajian E-Learning Part. 1 


3.1 Mahasiswa mampu : 1.    Menjelaskan definisi blended learning


3.2 2.          Menjelaskan syarat pemenuhan blended learning


3.3 3.          Menjelaskan aplikasi real dari blended learning dalam pembelajaran


3.4 4.          Menjelaskan Batasan peristilahan dalam e-Learning


3.4.1 visual mind e-learning

4. 4. Memahami pokok - pokok Kajian e-Learning Part. 2    http://loropiker-nashir190591.blogspot.com/


3.5 5.          Menjelaskan ruang lingkup e-Learning


3.6 6.          Menjelaskan Prasyarat e-Learning


3.7 7.          Menjelaskan Piranti pendukung e-Learning


3.8 8.          Menjelaskan Fungsi e-Learning


3.9 9.          Menjelaskan Plus minus e-Learning.



Overview screenshot


4.1 Mahasiswa mampu : I.    Menjelaskan latar belakang penggunaan e-Learning


4.2 II.         Menjelaskan sejarah kemunculan dan perkembangan e-Learning


4.3 III.        Menjelaskan karakteristik e-Learning


4.4 IV.        Menjelaskan program e-Learning di perguruan tinggi


4.5 V.         Menjelaskan efektifitas e-Learning


4.6 VI.        Menjelaskan komponen - komponen e-Learning



Overview screenshot

5. 5. Memahami Model - Model e-Learning dan Pengembangannya 


5.1 Mahasiswa mampu : 1.    Menjelaskan model - model e-Learning


5.2 2.          Menjelaskan model - model pengembangan e-Learning


5.3 3.          Menjelaskan contoh model pengembangan e- learning


5.4 4.          Menjelaskan materi e-Learning



Overview screenshot

6. 6.Memahami Pendekatan, Konsep Penyelenggaraan, Metode & Strategi e-Learning 


6.1 Mahasiswa mampu : a.    Menjelaskan pendekatan e-Learning


6.2 b.          Menjelaskan konsep penyelenggaraan e-Learning


6.3 c.          Menjelaskan metode penyampaian e-Learning


6.4 d.          Menjelaskan strategi pembelajaran dalam e-Learning



Overview screenshot

7. 7. Memahami Distance e-Leraning & pokok - pokok dalam "About Internet 1" 


7.1 Mahasiswa mampu : 1.    Menjelaskan distance e-Learning


7.2 2.          Menjelaskan istilah - istilah dasar dalam internet


7.3 3.          Menjelaskan contoh aplikatif e-Learning



Overview screenshot

8. 8. UTS 


8.1 A. wawancara dengan pengelola e-learning STAIMAFA


8.2 B. Dikumpulkan di manajemen sesuai jadwal ujian



Overview screenshot

9. 9. Memahami E-Learning Dalam Pembelajaran Bahasa Arab 


9.1 Mahasiswa mampu : i.     Menjelaskan e-Learning dalam PBA


9.2 ii.          Menjelaskan pemanfaatan IT dalam PBA, diantaranya :           cd interaktif          satelit / parabola          Arabic e-Learning


9.3 iii.         Menjelaskan kurikulum e-Learning dalam PBA


9.4 nashiruddinahmad

10. 10. Memahami cara Browsing Ke Internet & Blogging    http://nashiruddinahmad.wordpress.com/



Overview screenshot


10.1 Mahasiswa mampu menguasai langkah - langkah dalam browsing ke Internet dan mendesign Blog pribadi



Overview screenshot

11. 11. Memahami program Dreamweaver & Adobe Photoshop CS2 serta pemanfaatannya dalam pengembangan PBA 


11.1 Mahasiswa mampu menguasai dasar - dasar program Dreamweaver & Adobe Photoshop CS2 serta mengembangkannya dalam praktek pembelajaran Bahasa Arab



Overview screenshot

12. 12. Memahami Daftar di Internet & Website Pribadi 


12.1 Mahasiswa mampu menguasai langkah - langkah daftar di internet & membuat website pribadi dengan wordpress



Overview screenshot

13. 13. Memahami aplikasi WebService Sederhana, design film pembelajaran dengan youtube, dan Menerjemahkan percakapan dalam video youtube


13.1 Mahasiswa mampu menguasai aplikasi WebService Sederhana, design film pembelajaran dengan youtube, dan Menerjemahkan percakapan dalam video youtube.



Overview screenshot

14. 14. UAS


14.1 A. memposting materi E-learning di blog / wordpress


14.2 B. membuat visual mind lalu di upload di blog


14.3 C. sertakan e-mail dan kata kunci serta kumpulkan sesuai jadwal



Summary screenshot

E-learning STAI Mathali’ul Falah-Pati


E-learning STAI Mathali’ul Falah
Oleh: Ahmad Nashiruddin (PBA VI B)
Data ini kami dapatkan melalui wawancara yang telah kami lakukan bersama dengan petugas UPT. Puskom STAI Mathali’ul Falah (Imam Adzroie), kami memperoleh beberapa point yang berhubungan dengan segala macam tentang e-learning STAIMAFA meliputi:
1.      Latar belakang munculnya e-learning
E-learning muncul pada tahun 1980-an dengan basis elektronik seperti video,komputer,televisi,tape,radio dan lain sebagainya. Seiring dengan perkembangan zaman pada tahun 1990-an muncul e-learning berbasis web. Berdasarkan perkembangan teknologi yang semakin pesat, e-learning menjadi sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi oleh setiap kampus/universi. Dan idealnya setiap kampus memiliki e-learning sebagai salah satu pendukung pembelajarannya dan merupakan salah satu poin dalam akreditasi. Berdasarkan hal tersebut didirikanlah e-learning di STAIMAFA tepatnya satu tahun yang lalu.
Untuk perawatan sistem e-learning di STAIMAFA dipegang oleh UPT PUSKOM, sedangkan dalam pembelajarnnya dipegang oleh dosen yang bersangkutan. Pada tahun pertama upaya yang dilakukan untuk mengefektifkan intensitas pemanfaatan e-learning di STAIMAFA UPT PUSKOM mengadakan pelatihan terhadap 10 dosen terkait pengelolaan e-learning di STAIMAFA. Akan tetapi dari pelatihan yang telah dilakukan hanya dua dosen yang bisa memanfaatkannya.
2.      Fungsi e-learning di STAIMAFA
E-learning di STAIMAFA memilki dua fungsi yaitu fungsi subtitusi (pengganti) dan fungsi suplemen (pelengkap). E-learning bisa dimanfaatkan sebagai pengganti pertemuan mata kuliah yang tidak bisa dilakukan di kelas atau sebagai tambahan materi untuk melengkapi materi perkuliahan.
3.      Model e-learning STAIMAFA
Model yang digunakan dalam e-learning STAIMAFA adalah LMS (learning management system) dengan model moodle. Hal ini karena moodle memiliki fitur yang sangat lengkap, bisa diakses gratis, begitu juga banyak kampus-kampus lain baik di luar negeri maupun kampus yang berada di Indonesia memakai moodle sebagai sarana pengelolaan e-learning. Dosen bisa mengupload tugas untuk mahasiswanya, sedangkan mahasiswa bisa mengirim tugas pada dosenya lewat website.
4.      Problematika e-learning di STAIMAFA
a.      Problem umum
Penggunaan e-learning di STAIMAFA belum begitu dibutuhkan karena jumlah mahasiswa masih sedikit sehingga perkuliahan dengan sistem tatap muka di kelas sudah sangat efektif. Begitu juga dalam hal pemberian informasi terkait perpindahan jam kuliah atau ketidakhadiran dosen masih bisa diatasi dengan pengiriman sms pada salah satu mahasiswa.
b.      Problem khusus
Terdapat dua problem khusus dalam pemanfaatan e-learning di STAIMAFA yaitu pertama, kesiapan dosen dalam pemanfaatan e-learning masih kurang; hal ini karena sebagian dosen pengampu mata kuliah masih kurang kesadaran terhadap penggunaan e learning dan masih belum menguasai TIK secara penuh. Kedua, jaringan internet di STAIMAFA belum bisa mencukupi; hal ini disebabkan demografis STAIMAFA yang terletak di sebuah desa yang sangat terpencil dan jauh dari perkotaan sehingga akses connected jaringan internet masih sulit masuk. Dari beragam infrastruktur internet yang ada baru speedy yang baru bisa digunakan di staimafa. Dan akses internet mahasiswa  di batasi pula, mahasiswa hanya bisa mengakses bahan di internet terkait dengan materi pelajaran saja, karena untuk mengaskes internet yang besar dan lancar dibutuhkan biaya yang besar dan STAIMAFA belum bisa mencukupi untuk itu.
5.      Panduan mahasiswa penggunaan situs e-learning STAIMAFA (dalam pdf. Panduan_e-learning_STAIMAFA)
A.    Pendahuluan
Situs E-learning adalah situs yang bisa diakses melalui internet atau intranet yang digunakan untuk memperkaya jalur penyampaian (delivery channel) materi perkuliahan. STAI Mathali’ul Falah saat ini telah memiliki situs E-learning yang beralamatkan di www.elearning.staimafa.ac.id. Contoh tampilan awal untuk situs ini dapat dilihat pada gambar dibawah.
Gambar 1. Tampilan Awal Situs e-learning Staimafa
B.     Situs E-learning STAI Mathali’ul Falah
Situs ini menggunakan aplikasi Content Management System bernama Moodle (moodle.org), yaitu Aplikasi Open Source yang dibangun dengan kontribusi banyak pemrogram. Aplikasi ini mempunyai General Public License (GPL) sehingga bisa digunakan tanpa membayar.
1.      Registrasi User
Langkah pertama yang di lakukan untuk penggunaan situs e-learning adalah dengan proses login dengan urutan sebagai berikut:
1. Akses situs yang beralamatkan di www.e-learning.staimafa.ac.id
2. Selanjutnya klik login pada pojok kanan atas, dan akan tampil halaman berikut:
Gambar 2. Tampilan yang muncul ketika mengklik “login”
Klik button Silahkan daftar untuk jadi anggota baru atau klik New account dan selanjutnya akan tampil jendela berikut:
Gambar 3. Tampilan form anggota baru
Isikan semua form di atas dan pastikan password terdiri dari minimal 8 karakter. Disarankan bentuk password terdapat kombinasi minimal 1 buah huruf, 1 buah huruf besar, 1 buah huruf kecil dan 1 buah non-alphanumeric caracter seperti: * _ - , . : ; / ? ! @ # $ % ^ & * ( ) { } [ ] . Contohnya: sTai_mafa5.
2.      Mengikuti Kursus di e-learning
Setelah mahasiswa mengkonfirmasi pendaftaran akun e-learning yang terkirim pada email masing-masing, mahasiswa bisa langsung login ke dalam portal e-learning. Untuk masuk silahkan klik “login” pada pojok kanan atas situs, seperti pada gambar:
Gambar 4. Tanda dalam lingkaran adalah “login” untuk masuk ke e-learning bagi yang telah mendaftar
Mahasiswa kemudian dapat memilih (mengklik) mata kuliah yang tersedia sesuai petunjuk dosen, untuk mengikuti kegiatan yang ada pada mata kuliah tersebut, mata kuliah dikelompokkan dalam 4 (empat) kelompok, yaitu;
1. STAI, untuk semua mata kuliah yang diajarkan pada semua prodi
2. Prodi PBA, untuk semua mata kuliah Prodi Pendidikan Bahasa Arab
3. Prodi PMI, untuk semua mata kuliah Prodi Pengembangan Masyarakat Islam
4. Prodi PS, untuk semua mata kuliah Prodi Perbankan Syariah.
Gambar 5. Tampilan mata kuliah yang tersedia dalam kategori STAI, mata kuliah fiqih yang tanda enrollmentkey

Beberapa mata kuliah dilengkapi dengan enrollment key yang dapat diketahui dengan menanyakannya kepada Dosen Pengampu mata kuliah tersebut. Enrollment-key adalah kunci masuk yang harus diisikan oleh mahasiswa jika menginginkan memasuki mata kuliah tertentu.
Contoh tampilan di bawah ini adalah bila kita mengklik mata kuliah yang terdapat enrollmentkey: Gambar 6. Tampilan pengisian enrollment key pada mata kuliah tertentu



Beberapa mata kuliah juga tidak dilengkapi dengan enrollment key, sehingga dapat langsung dimasuki hanya dengan sekali halaman konfirmasi.
Gambar 7. Tampilan halaman setelah masuk ke mata kuliah fiqih
Halaman mata kuliah ini terdiri dari 3 kolom yang terdiri dari berbagai fungsionalitas yang dapat digunakan oleh mahasiswa.
·         Kolom pertama dari kiri terdiri dari fungsionalitas (link) People - Participants untuk melihat partisipan mata kuliah tersebut. Fungsionalitas Activities yang terdiri dari Assignments (tugas-tugas), Forums (halaman untuk diskusi), Resources (bahan-bahan) yang bisa dimanfaatkan pada mata kuliah ini. Fungsionalitas Search Forums untuk pencarian, Fungsionalitas Administration yang terdiri dari Grades untuk melihat nilai yang diberikan dosen pengampu, Edit Profiles untuk melakukan penggantian profile mahasiswa, Change password untuk mengganti password memasuki situs kuliah ini dan Unenroll me untuk keluar dari mata kuliah yang bersangkutan. Fungsionalitas MyCourses untuk melihat mata kuliah apa saja yang sedang diikuti oleh mahasiswa.
·         Kolom Kedua berisi Resource(bahan-bahan) dan Activity(aktivitas) rinci yang diberikan pada mata kuliah yang bersangkutan. Pada contoh gambar 9 telah ada satu Activity dan satu Resource yang siap digunakan, yaitu Resource Materi Minggu I, tanggal 16-22 Agustus : Halal dan Haram yang siap di download untuk digunakan sebagai bahan belajar. Sedangkan yang kedua adalah aktivitas Assignment (Tugas) yang diberikan oleh dosen pengampu. Dosen Pengampu dapat menggunakan aktivitas ini untuk memberikan tugas sedangkan mahasiswa dapat mengumpulkan tugasnya melalui situs ini juga.
Gambar 8. Halaman mata kuliah Fiqih dengan format mingguan
·         Kolom ketiga halaman mata kuliah berisi News (berita), Upcoming Event (event yang akan datang) serta Recent Activity (kegiatan terbaru). RESOURCES (sumber) dan ACTIVITY (aktivitas) Link paling penting pada halaman mata kuliah yaitu Resources dan Activity yang ada pada kolom tengah halaman. Resources adalah bahan-bahan atau materi yang diberikan dosen pengampu kepada mahasiswa peserta mata kuliah. Resources tersebut seperti, link to a file (file bahan kuliah) yang bisa didownload, link to text page (link ke halaman text) untuk suatu materi tertentu dll. Activity adalah kegiatan yang bisa dikerjakan pada mata kuliah seperti, Assignment (Tugas), Exercise (Latihan), Quiz dll. Contoh halaman mata kuliah yang telah berisi resources dan assignment adalah mata kuliah Fiqih yang tampak pada gambar 9 berikut.
Gambar 9. Halaman mata kuliah Fiqih dengan resource dan activity
·         Keterangan gambar :
Resources/sumber : berupa link to a file seperti pada gambar 9 diatas dapat langsung dimanfaatkan dengan dipilih dengan mengkliknya untuk mendownload e-book Halal dan Haram dalam Islam.
Activity/aktivitas : berupa Assignment seperti pada gambar 9 diatas dapat digunakan dengan memilihnya dan melihat tugas apa yang harus dikerjakan.Pada gambar di atas berupa penugasan untuk membuat analisis dari buku Halal dan Haram dalam Islam yang file-nya terdapat pada Resource/sumber.
C.    Penutup
Tutorial singkat ini ditulis dari sebagian kecil fitur dari Moodle, yang mempunyai ratusan fitur yang lain. Fitur dari Moodle terus bertambah karena kontribusi dari masyarakat open source diseluruh dunia. Tutorial singkat ini tentu tidak bebas dari kesalahan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para mahasiswa Staimafa yang akan menggunakan situs e-learning.staimafa.ac.id. Selamat mencoba!!!!!!!!!!!

Rabu, 06 Juni 2012

alih kode dan campur kode


“Kontribusi alih kode dan campur kode dalam pembelajaran Bahasa Arab di STAIMAFA Pati”[1]
Oleh     : Ahmad Nashiruddin (09.11.00138)[2]

Abstrak
            Salah satu perguruan tinggi yang membuka jurusan pendidikan bahasa Arab (PBA), STAIMAFA tentu mengharapkan ada suatu iklim ke”bahasa Arab”an di lingkungan pembelajarannya. Namun sebagai perguruan tinggi yang baru tentu hal ini masih sulit diterapkan, terlebih bahasa Arab ini bukanlah bahasa asli ataupun bahasa ibu bagi peserta didik dan pengelola kampus ini. Adapun salah satu upaya yang penulis tawarkan dalam penulisan ini untuk mulai menggerakkan langkah guna menggapai harapan itu ialah dengan mempraktekkan alih kode dan campur kode dalam kegiatan pembelajaran, kegiatan sehari-hari, organisasi dan seterusnya.
Pada hakekatnya alih kode itu ialah penggunaan dua bahasa atau lebih yang mana bila satu klausa secara jelas memiliki struktur gramatika satu bahasa, dan klausa yang berikutnya disusun menurut struktur gramatika bahasa lain, sedangkan campur kode itu merupakan penggunaan dua bahasa atau lebih yang mana hanya menggunakan satu kata atau frase dari suatu bahasa yang dimaksud.
Adapun kontribusinya sendiri dalam pembelajaran bahasa Arab di STAIMAFA itu mempunyai beberapa manfaat, diantaranya: untuk melatih mahasiswa supaya bisa berkomunikasi dengan baik sesuai konteks yang dihadapi, untuk mengarahkan mahasiswa agar tidak terjebak dengan linguistik murni melainkan bisa memahami fungsi linguistik dalam tindak tutur, sebagai basis metode pengajaran/pembelajaran bahasa Arab (asing) dengan sistem “gradasi (tingkat demi tingkat)” dan “motivasi (dorongan)”, terutama maharah kalam dan istima’, sebagai salah satu cara pendekatan ke mahasiswa, sebagai salah satu cara evaluasi pembelajaran bahasa Arab, sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun kurikulum pendidikan bahasa Asing (Arab), bisa juga sebagai politik bahasa dalam pendidikan bahasa Asing, bisa lebih mengakrabkan suasana, terutama antar penutur dan pendengar, bisa membumikan bahasa Arab di STAIMAFA, dengan semakin seringnya dipraktekkan lama kelamaan mahasiswa akan semakin banyak menguasai kosa kata bahasa Arab, ada variasi dalam berkomunikasi, dan seterusnya.  
Kata kunci : alih kode, campur kode, pembelajaran bahasa Arab.
I.                   PENDAHULUAN
Bahasa Arab merupakan salah satu sarana untuk mempelajari berbagai  macam bidang keilmuan, terutama ilmu-ilmu keislaman, sarana untuk mempelajari peradaban dan kebudayaan, serta sebagai sarana komunikasi internasional. Keberadaan bahasa Arab yang demikian itu menarik minat banyak pihak, baik dari kalangan pelajar, dosen, pejabat, maupun peneliti untuk mempelajari dan melestarikannya. Hal itu dapat kita jumpai dengan menjamurnya lembaga-lembaga yang berbahasa Arab dimana kesemuanya secara garis besar mempunyai tujuan yang sama yakni ingin menjaga dan mengembangkan bahasa Arab, tak terkecuali STAIMAFA.
Sebagai perguruan tinggi yang lahir dari rahim pesantren, muthlak kiranya bila STAIMAFA membuka jurusan yang bernuansa ke”bahasa Arab”an guna untuk terus melanjutkan tonggak estafet yang telah didapatkan oleh peserta didik dari tingkatan sebelumnya (Aliyah), agar apa yang telah mereka miliki bisa dikembangkan di STAIMAFA. Salah satu usaha untuk mengembangkan bahasa Arab di STAIMAFA adalah dengan membiasakan menggunakannya dalam kegiatan pembelajaran perkuliahan, percakapan sehari-hari, keorganisasian dan seterusnya. Adapun salah satu trik ataupun cara untuk merealisasikan kebiasaan itu ialah dengan menggunakan alih kode dan campur kode. Menurut hemat penulis, alih kode dan campur kode bisa dijadikan alternative untuk usaha membumikan bahasa Arab di STAIMAFA, mengingat  praktek pelaksanaannya yang cukup mudah, karena hanya tinggal mngalihkan ataupun mncampurkan kode-kode yang para mahasiswa telah kuasai.
Selanjutnya mungkin yang jadi pertanyaan banyak pihak disini ialah apa itu sebenarnya alih kode dan campur kode? apa saja macam-macamnya? apa saja factor-faktor yang menyebabkan kemunculannya? Lalu apa kontribusinya bila diterapkan di STAIMAFA? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang nantinya akan penulis coba jawab dalam makalah singkat ini, meski tentu penulis menyadari bahwa di dalam makalah ini pasti masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan yang hal itu muncul tidak lain karena masih terbatasnya kemampuan penulis terhadap tema ini.

II.                PEMBAHASAN
A.     Definisi kode
Kode dalam bahasa Arab di sebut dengan isyaroh[3] dan pada bahasa Inggris dikenal dengan istilah code[4], yang dalam kamus Oxford dijelaskan dengan system of words, letters, numbers, or symbols that represent a message or record information secretly or in a shorter[5], yang diartikan pula oleh kamus besar Bahasa Indonesia sebagai tanda (kata-kata atau tulisan) yang disepakati untuk maksud tertentu[6].
Adapun kaitannya dengan sosiolingustik, kode itu dikenal sebagai istilah netral yang dapat mengacu pada bahasa, dialek[7], sosiolek[8], dan ragam bahasa[9], ataupun bisa diartikan sebagai unsur-unsur (varian-varian) yang ada dalam suatu bahasa (parole) tertentu yang dipakai untuk berkomunikasi. Selain itu kode juga bisa berada pada level antar bahasa (langue).
Sedangkan menurut Kridalaksana kode ialah lambang/sistem ungkapan yang dipakai untuk menggambarkan makna tertentu, yang mana kode mengacu pada suatu sistem tutur yang dalam penerapannya mempunyai ciri khas sesuai dengan latar belakang penutur, relasi penutur dengan mitra tutur dan situasi tutur yang ada.
Kode juga memiliki unsur-unsur  pokok yakni menyangkut fonologi[10], leksikon[11], morfologi[12] dan sintaksis[13] dalam suatu wacana komunikasi. Dua unsur pertama (fonologi & leksikon) itu yang sangat berperan, karena yang paling mudah berubah.[14].
Seseorang yang sedang melakukan pembicaraan pada hakekatnya ia sedang mengirimkan kode-kode kepada lawan bicaranya. Pengkodean ini melalui suatu proses yang terjadi baik pada pembicara, hampa suara, dan pada lawan bicara. Kode-kode itu harus dimengerti oleh kedua belah pihak. Kalau yang sepihak memahami apa yang dikodekan oleh lawan bicaranya, maka ia pasti akan mengambil keputusan dan bertindak sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan. Tindakan itu misalnya bisa berupa memutuskan pembicaraan ataupun mengulangi lagi pertanyaannya.
Seseorang mengkode dengan berbagai macam variasi. Bisa dengan variasi lembut, keras, cepat, lambat, bernada, dan seterusnya, sesuai dengan suasana hati pembicara. Kalau marah, tentu ia akan mengkode dengan cepat dan keras, begitu juga sebaliknya jika sedang merayu, tentu ia akan mengkode dengan pelan dan lembut. Jadi kesimpulannya manusia itu bisa mengubah suaranya, sesuai dengan suasana hati yang sedang dialami ataupun bisa juga akibat dari stimulus yang datang kepadanya. Selain itu yang perlu diperhatikan juga disini ialah bahwa setiap perubahan bunyi itu akan berakibat juga pada perubahan makna[15].
B.     Definisi Alih Kode
Adanya kemampuan bilingualitas[16] berimbas juga pada munculnya alih kode (code switching) yakni peristiwa peralihan dari satu kode ke kode yang lain[17] atau bisa dikatakan juga sebagai proses menggganti bahasa yang digunakan oleh seseorang yang bilingual[18]. Adapun di dalam Sosiolinguistk sendiri alih kode secara sederhana bisa diartikan sebagai perubahan bahasa yang terjadi pada ragam santai menjadi ragam yang resmi, ataupun bisa sebaliknya, ragam resmi menjadi ragam yang lebih santai. Walau sebenarnya banyak batasan yang dikemukakan oleh para ahli tentang definisi yang sesuai dengan hakikat alih kode, namun keterangan diatas setidaknya  telah mampu memberi sedikit gambaran tentang apa itu alih kode[19]. Selain itu, peralihan kode itu sendiri juga bisa disebut sebagai peralihan pembicaraan dari masalah satu ke persoalan atau masalah yang lain[20].
Salah satu ahli yang mencoba memberikan batasan tentang definisi alih kode ini ialah Appel, yang mana alih kode itu diartikan olehnya sebagai “gejala peralihan pemakaian bahasa disebabkan karena berubahanya situasi”.
Berbeda dengan Appel yang menyatakan bahwa alih kode itu terjadi antar bahasa, Hymes menyatakan bahwa alih kode itu bukan hanya terjadi antarbahasa, tetapi dapat juga terjadi antar ragam-ragam ataupun gaya-gaya yang ada dalam suatu bahasa tertentu, atau secara lengkapnya Hymes mengatakan bahwa “code switching has become a common term for alternate us of two or more language, varieties of language, or even speech styles[21].
C.     Macam-Macam alih kode
Macam-macam alih kode itu sangat beragam, tergantung dari sudut mana kita mau melihatnya. Dan diantara berbagai macam sudut pandang itu ialah:
a)     Ditinjau segi dari bentuknya, alih kode itu dibagi menjadi dua, yakni: 1) campur yaitu dalam komunikasi alih kodenya digunakan secara selang-seling dan bolak-balik, 2) permanen yaitu dalam komunikasi alih kodenya terjadi dari kode satu menuju kode kedua secara tidak bergantian akan tetapi secara bertahap.
b)     Ditinjau dari segi bahasanya, dibagi menjadi 3 macam, diantaranya: 1)Ekslusif: antara ragam / variasi bahasa tertentu (dibawah parole). 2) Intern: antara bahasa daerah dan bahasa nasional, 3) Ekstern: antara bahasa sendiri dan bahasa Asing.
c)     Ditinjau dari segi waktunya, dibagi menjadi 2; 1) Sementara atau alih kode yang berlangsung sebentar, 2) Permanen atau alih kode yang berlangsung sampai komunikasi selesai, yang didasarkan pada hubungan antara penutur dan lawan tutur.
d)     Ditinjau dari segi tempatnya: 1) Situasional ialah alih kode atas dasar situasi, 2) metaphor yakni alih kode atas dasar ingin menunjukkan identitas penutur[22].
Sedangkan Soewito sendiri membedakan alih kode itu menjadi alih kode intern yakni alih kode yang berlangsung antar bahasa sendiri, seperti dari Bahasa Arab Fushah ke ‘Amiyah, ataupun sebaliknya, dan alih kode ekstern yaitu alih kode yang terjadi antar bahasa sendiri dengan bahasa asing, semisal bahasa Indonesia ke bahasa Arab[23].
D.    Faktor-faktor penyebab terjadinya alih kode
Jika mau menilik tentang faktor-faktor penyebab terjadinya alih kode, maka seyogyanya harus kita kembalikan kepada pokok persoalan sosiolinguistik seperti yang telah dikemukakan oleh Fishman, yaitu “siapa berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, dan dengan tujuan apa”. Dalam berbagai kepustakaan linguistic, secara umum penyebab alih kode itu disebutkan, antara lain:
a.       Pembicara atau Penutur
Seorang pembicara atau penutur sering kali melakukan alih kode untuk mendapatkan “keuntungan” atau “manfaat” dari tindakannya itu. Semisal ada seorang mahasiswa baru asal dari Pati yang mendaftar kuliyah di Al-Azhar, lalu ia bertemu dengan seseorang yang setelah mengobrol beberapa saat ia baru tahu kalau ternyata ia juga berasal dari daerah Pati dan mempunyai bahasa ibu yang sama. Maka dengan maksud agar si mahasiswa baru tadi mendapatkan bantuan dari orang yang baru dikenalnya, ia menggunakan alih kode dari Bahasa Arab Mesir ke Bahasa Jawa khas Pati. Jadi disini bisa dikatakan bahwa penutur (mahasiswa baru), melakukan alih kode agar ia mendapatkan manfaat ataupun keuntungan dari tindakannya itu.
b.      Pendengar atau Lawan tutur
Pendengar atau lawan bicara atau bisa disebut juga sebagai lawan tutur itu dapat pula menyebabkan terjadinya alih kode, hal ini bisa terjadi misalnya dikarenakan si penutur ingin mengimbangi kemampuan berbahasa si lawan tutur yang dimaksud. Dalam hal ini biasanya kemampuan berbahasa si lawan tutur itu kurang atau agak kurang karena mungkin memang bukan bahasa pertamanya. Andaikan si lawan tutur itu berlatar balakang sama dengan penuturnya, maka alih kode yang terjadi itu hanya berupa varian (baik regional maupun sosial), ragam, gaya, atau register. Kalau si lawan tutur berlatar belakang tidak sama dengan si penutur, maka yang terjadi ialah alih bahasa. Seumpama yeyen salah satu pemilik kios souvenir di Malioboro, ia kedatangan tamu turis asing dari Dubai yang mengajak bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia. Selang beberapa saat si turis tadi terlihat kehabisan kata-kata untuk terus berbicara dengan bahasa Indonesia, maka secara cepat-cepat yeyen mengalih kodekan bahasanya untuk bercakap-cakap kepada turis tadi kedalam bahasa Arab Fushah, sehingga kemudian percakapan antara keduanya menjadi lancar kembali.
c.       Perubahan situasi karena adanya orang ketiga
Kehadiran orang ketiga atau orang lain yang tidak berlatar belakang bahasa yang sama dengan bahasa yang sedang digunakan oleh penutur dan lawan tutur dapat menyebabkan terjadinya alih kode. Semisal pada saat mahasiswa PBA 5 B sedang asyik bercakap-cakap menggunakan ragam santai mereka, setelah beberapa lama datanglah Bu Inayah yang menyapa mereka dan ikut berbicara namun dengan menggunakan bahasa Arab Fushah. Maka secara bergantian para mahasiswa PBA 5 B pun melakukan alih kode seraya menyapa dan bercakap-cakap dengan beliau menggunakan bahasa Arab Fushah. Yang jadi pertanyaan mengapa mereka tidak terus saja menggunakan ragam santai mereka? Hal ini terjadi disebabkan karena kehadiran orang ketiga yang berstatus sebagai dosen mereka, yang mau tidak mau mengharuskan mereka untuk berbicara dengan beliau menggunakan bahasa Arab Fushah.
d.      Perubahan situasi dari formal menjadi tidak formal ataupun sebaliknya
      Perubahan situasi bicarapun sebenarnya dapat menyebabkan terjadinya alih kode. Dalam perkuliahan Bu Inayah bisa kita lihat, yang mana pada saat sebelum perkuliahan (situasi tidak formal) para mahasiswa PBA 5 B menggunakan bahasa santai mereka untuk bercakap-cakap, namun begitu kuliah dimulai (situasi menjadi formal), maka terjadilah alih kode yang dilakukan oleh mereka yaitu dari ragam bahasa santai ala mereka menjadi bahasa Arab Fushah. Kemudian dengan berakhirnya perkuliahan, yang menandakan berakhir pula situasi formal dan berubah kembali menjadi situasi yang tidak formal, maka para mahasiswa PBA 5 B inipun kembali menggunakan bahasa santai mereka untuk bercakap-cakap antar sesama.
e.       Berubahnya topic pembicaraan
Berubahnya topic pembicaraan juga dapat menyebabkan terjadinya alih kode. Kita bisa temui contoh ini ketika kita mengikuti perkuliahan Pak Khabibi, yang mana pada saat beliau sedang membahas topic-topik tentang sosiolinguistik beliau mengemas bahasanya menggunakan bahasa Indonesia resmi, namun jika tiba-tiba pembahasannya mengarah pada cewek maka beliau mengemasnya menjadi bahasa jawa santai. Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa berubahnya topic yang dibicarakan itu pun nantinya bisa menyebabkan munculnya alih kode.
Disamping kelima factor diatas, sesungguhnya masih banyak lagi factor yang menjadi penyebab terjadinya alih kode. Penyebab-penyebab ini biasanya sangat berkaitan dengan verbal repertoire[24] yang terdapat dalam suatu masyarakat hukum serta bagaimana status sosial yang dikenakan oleh para penutur terhadap bahasa-bahasa atau ragam-ragam bahasa yang terdapat dalam masyarakat kultur itu[25].  
E.     Definisi Campur Kode
Selain dengan menggunakan alih kode, seorang penutur juga dapat melakukan campur kode (code mixing), yang secara sederhana dapat diartikan sebagai fenomena pencampuran bahasa kedua ke dalam bahasa pertama, pencampuran bahasa asing ke dalam struktur bahasa ibu[26], ataupun bisa juga memasukkan unsur-unsur suatu bahasa (langue, parole) kepada bahasa lain dalam proses komunkasi[27]. Atau dalam definisi yang lain ialah menggunakan dua atau lebih bahasa maupun ragam bahasa secara santai antara orang-orang yang kita kenal akrab. Dalam situasi berbahasa yang informal ini, kita dapat dengan bebas menggunakan ragam bahasa kita, khususnya apabila terdapat istilah yang tidak dapat diungkapkan dalam bahasa lain. Dan terkadang campur kode juga dipakai jika penutur itu ingin menunjukkan kemahirannya menggunakan kosakata bahasa asing tertentu[28].
Adapun sisi kesamaan yang ada diantara alih kode dan campur kode itu ialah sama-sama digunakannya dua bahasa atau lebih, ataupun hanya dua varian dari sebuah bahasa yang ada dalam satu masyarakat tutur.
F.     Batasan Alih Kode dan Campur Kode
Setelah tadi kita mengetahui tentang sisi kesamaan dari alih kode dan campur kode, di sub bab ini kita akan membicarakan tentang sisi perbedaan ataupun batasan antar keduanya. Perbedaan itu bisa dikategorikan sebagai berikut: bila dalam alih kode setiap bahasa atau ragam yang digunakan itu masih memiliki fungsi otonomi masing-masing, dan dilakukan secara sadar, serta sengaja sesuai dengan sebab-sebab tertentu yang telah dikemukakan diatas. Sementara dalam campur kode ada sebuah kode utama atau kode dasar yang digunakan dan memiliki fungsi keotonomiannya, jadi kode-kode lain yang terlibat dalam peristiwa tutur hanyalah berupa serpihan-serpihan tanpa fungsi dan keotonomian sebagai sebuah kode.
Fasold (1984) menawarkan criteria gramatikal untuk memberikan batasan antara keduanya. Kalau seseorang menggunakan satu kata[29] atau frase[30] dari suatu bahasa maka dia telah melakukan campur kode. Akan tetapi bila satu klausa[31] secara jelas memiliki strktur gramatika satu bahasa, dan klausa yang berikutnya disusun menurut struktur gramatika bahasa lain, maka peristiwa yang terjadi ialah alih kode[32]. contoh:
ü  Uridu an adzhaba ila Jakarta li jenk-jenk = campur kode.
ü  My name is Ahmad Nashiruddin
askunu filma’had al-Islamy Maslakul Huda = alih kode.


Alih kode
Campur kode
Persamaan
Sama-sama 2/lebih bahasa atau varian
Sama-sama 2/lebih bahasa atau varian
Perbedaan
Setiap bahasa masih punya otonomi
Sebagian kode/bahasa hanya serpihan-serpihan tanpa otonomi

Dilakukan secara sadar


Sengaja


Klausa
Kata / frasa

G.    Faktor-Faktor penyebab terjadinya Campur Kode
Ada sejumlah hal yang mengakibatkan terjadinya campur kode, diantaranya:
*      Kebiasaan yang dimiliki seseorang ikut menentukan prilaku bahasanya. Yang dimaksud kebiasaan disini ialah kebiasaan dalam penggunaan kata maupun istilah tertentu yang menjadi kebiasaan partisipan dalam pergaulan sehari-hari. Misalnya, mahasiswa PBA 5 B lebih senang menggunakan kata jenk-jenk daripada kata رحلة.
*      Pemakaian kata tertentu yang diakibatkan oleh keakraban, adalah pertanda bahwa di antara partisipan merasa sangat dekat, sehingga lebih cenderung memilih kata-kata tertentu, seperti: “ lo, gue, chuy”,  yang berarti: ‘anda, saya, kawan‘.
*      Kesantaian di antara partisipan adalah perwujudan rasa akrab tanpa pembatas dengan tidak membedakan status sosial, usia, pekerjaan, maupun jenis kelamin. Dengan situasi seperti itu mereka tanpa ragu-ragu menggunakan istilah yang santai dan akrab, seperti: “ila aen“, yang berarti: ‘ kemana e‘ tanpa menyebut nama.
*      Topik pembicaraan sering mengharuskan partisipan untuk memunculkan kata-kata tertentu yang sesuai dengan topik yang dibahas saat itu[33].                             Misalnya saat seseorang melibatkan diri dalam topik ”bahasa” tentu muncul istilah: fonologi, morfem, klausa, morfologi dll.  Demikian pula apabila terlibat dalam topik ibadah akan muncul istilah: sholat, shodaqoh, zakat, infaq dll.  
H.   Kontribusi Alih Kode dan Campur Kode dalam pembelajaran Bahasa Arab di STAIMAFA
Setelah kita sama-sama mengetahui apa itu alih kode dan campur kode beserta aspek-aspek ataupun hal-hal yang melingkupinya, disini penulis ingin memberikan sedikit penawaran tentang kontribusi yang bisa diberikan alih kode dan campur kode terhadap pembelajaran bahasa Arab di STAIMAFA. Dan diantara kontribusinya ialah:
  • Untuk melatih mahasiswa supaya bisa berkomunikasi dengan baik sesuai konteks yang dihadapi.
  • Untuk mengarahkan mahasiswa supaya tidak terjebak dengan linguistik[34] murni, melainkan bisa memahami fungsi linguistik dalam tindak tutur.
  • Sebagai basis metode pengajaran/pembelajaran bahasa Arab (asing) dengan sistem “gradasi (tingkat demi tingkat)” dan “motivasi (dorongan)”, terutama maharah kalam dan istima’.
  • Sebagai salah satu cara pendekatan ke mahasiswa.
  • Sebagai salah satu cara evaluasi pembelajaran bahasa Arab.
  • Sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun kurikulum pendidikan bahasa Asing (Arab).
  • Politik bahasa dalam pendidikan bahasa Asing[35].
  • Bisa lebih mengakrabkan suasana, terutama antar penutur dan pendengar.
  • Bisa membumikan bahasa Arab di STAIMAFA.
  • Dengan semakin seringnya dipraktekkan lama kelamaan mahasiswa akan semakin banyak menguasai kosa kata bahasa Arab.
  • Ada variasi dalm berkomunikasi, dan seterusnya.
Sedangkan menurut penulis contoh riil pelaksanaan alih kode dan campur kode dapat diaplikasikan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, kehidupan sehari-hari ataupun organisasi (HMPS). Semisal pada saat presentasi ataupun menerangkan, sang presentator bisa mempresentasikan materinya dengan menggunakan bahasa Arab dengan dibumbui ataupun diartikan sedikit demi sedikit ke bahasa Indonesia, atau juga bisa sebaliknya. Apabila hal ini dilakukan secara istiqomah sudah pasti lama kelamaan dalam situasi pembelajaran tersebut bahasa Arab menjadi lebih membumi. Dan penulis juga berkeyakinan bila alih dan campur kode bahasa Indonesia ke Arab dan sebaliknya itu rutin dilakukan oleh mahasiswa dan Dosen (atau yang lainnya), maka mimpi untuk menciptakan iklim ke”bahasa Arab”an di STAIMAFA sedikit demi sedikit akan dapat terwujud. Selamat mencoba.

III.             KESIMPULAN
Ø  Kode ialah lambang/sistem ungkapan yang dipakai untuk menggambarkan makna tertentu, yang mana kode mengacu pada suatu sistem tutur yang dalam penerapannya mempunyai ciri khas sesuai dengan latar belakang penutur, relasi penutur dengan mitra tutur dan situasi tutur yang ada.
Ø  Alih kode (code switching) yakni peristiwa peralihan dari satu kode ke kode yang lain atau bisa dikatakan juga sebagai proses menggganti bahasa yang digunakan oleh seseorang yang bilingual.
Ø  Macam-macam alih kode itu sangat beragam, meliputi:
a)     Ditinjau segi dari bentuknya: 1) campur , 2) permanen.
b)     Ditinjau dari segi bahasanya: 1)Ekslusif , 2) Intern 3) Ekstern.
c)     Ditinjau dari segi waktunya: 1) Sementara, 2) Permanen.
d)     Ditinjau dari segi tempatnya: 1) Situasional, 2) metaphor.
Sedangkan menurut Soewito sendiri membedakan alih kode itu menjadi alih kode intern dan alih kode ekstern.
Ø  Faktor-faktor penyebab terjadinya alih kode itu diantaranya:
a)      Pembicara atau Penutur.
b)      Pendengar atau Lawan tutur.
c)      Perubahan situasi karena adanya orang ketiga.
d)      Perubahan situasi dari formal menjadi tidak formal ataupun sebaliknya.
e)      Berubahnya topic pembicaraan.
Ø  Campur kode (code mixing), secara sederhana dapat diartikan sebagai fenomena pencampuran bahasa kedua ke dalam bahasa pertama, pencampuran bahasa asing ke dalam struktur bahasa ibu.
Ø  Sedangkan perbedaanya ialah:

Alih kode
Campur kode
Persamaan
Sama-sama 2/lebih bahasa atau varian
Sama-sama 2/lebih bahasa atau varian
Perbedaan
Setiap bahasa masih punya otonomi
Sebagian kode/bahasa hanya serpihan-serpihan tanpa otonomi

Dilakukan secara sadar


Sengaja


Klausa
Kata / frasa
Ø  Adapun kontribusinya sendiri dalam pembelajaran bahasa Arab di STAIMAFA itu mempunyai beberapa manfaat, diantaranya: (1) untuk melatih mahasiswa supaya bisa berkomunikasi dengan baik sesuai konteks yang dihadapi, (2) untuk mengarahkan mahasiswa agar tidak terjebak dengan linguistik murni melainkan bisa memahami fungsi linguistik dalam tindak tutur, (3) sebagai basis metode pengajaran/pembelajaran bahasa Arab (asing) dengan sistem “gradasi (tingkat demi tingkat)” dan “motivasi (dorongan)”, terutama maharah kalam dan istima’, (4) sebagai salah satu cara pendekatan ke mahasiswa, (5) sebagai salah satu cara evaluasi pembelajaran bahasa Arab, (6) sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun kurikulum pendidikan bahasa Asing (Arab), (7) bisa juga sebagai politik bahasa dalam pendidikan bahasa Asing, (8) bisa lebih mengakrabkan suasana, terutama antar penutur dan pendengar, (9) bisa membumikan bahasa Arab di STAIMAFA, (10) dengan semakin seringnya dipraktekkan lama kelamaan mahasiswa akan semakin banyak menguasai kosa kata bahasa Arab, (11) ada variasi dalm berkomunikasi, dan seterusnya.
Ø  Lalu terakhir dari penulis, agar wacana ini dapat terealisasikan secara maksimal, seyogyanya dukungan dari berbagai pihak amat sangat diperlukan. Tiada salahnya untuk mengawali pembumian bahasa Arab di STAIMAFA konsep alih kode dan campur kode itu dijadikan cara awal untuk berpijak. Mari kita bumikan bahasa Arab di STAIMAFA dengan alih dan campur kode. ^_^.
 
IV.              DAFTAR PUSTAKA
Bisri, Adib & AF, Munawwir, Al-Bisri kamus Indonesia-Arab, Surabaya: Pustaka Progressif, 1999.
M. Echolis, John & Shadily, Hassan, Kamus Indonesia Inggris, Jakarta: Gramedia, edisi ke: III, 1997.
Oxford Learners Pocket Dictionary, Oxford University press, 1983.
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia: Pusat Bahasa, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, edisi ke: IV, 2008.
Pateda, Mansoer, Sosiolinguistik, Bandung: Angkasa, 1987.
Nur Indah, Rohmani & Abdurrahman, Psikolinguistik: Konsep & Isu Umum, Malang:UIN-Malang Press, 2008.
Chaer, Abdul & Agustina, Leonie, Sosiolinguistik (perkenalan awal-edisi revisi), Jakarta: Rineka Cipta, cet: ke II, 2004.
Sumarsono, Sosiolinguistik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet: IV, 2008.
Hand out dosen pengampu mata kuliah Sosiolinguistik yang disampaikan pada minggu ketujuh dari jadwal perkuliahan, yakni pada tanggal 15-11-2011, tentang memahami teori alih kode dan campur kode.
Ni Nyoman Garminah, Campur Kode Dalam Pemakaian Bahasa Bali Pada Etnik Jawa Di Desa Tegallingah, Buleleng, dalam http://www.google.co.id/search?q=campur+kode+dalm+bahasa+bali&ie=utf8&oe=utf–8&aq=t&rls=org.mozilla:id:official&client=firefox-a, diunduh pada  30 December 2011 pukul 10:17:28 AM
http://anaksastra.blogspot.com/2009/02/alih-kode-dan-campur-kode.html / diunduh pada  30 Desember 2011 pukul 9:37:46 AM.
http://indonesiasaram.wordpress.com/2007/01/06/campur-kode/ diunduh pada 9 Januari 2012 pukul 9:05:32 PM.



[1]Makalah ini disusun guna memenuhi tugas UAS mata kuliah Sosiolinguistik yang diampu oleh Khabibi Muhammad Luthfi S.S., M.Hum.
[2]Penulis adalah Mahasiswa Program Study Pendidikan Bahasa Arab semester V B di STAI Mathali’ul Falah.
[3]Adib Bisri & Munawwir AF, Al-Bisri kamus Indonesia-Arab,(Surabaya: Pustaka Progressif, 1999), hlm. 156.
[4]John M. Echolis & Hassan Shadily, Kamus Indonesia Inggris, (Jakarta: Gramedia, edisi ke: III, 1997), hlm. 302.
[5]Oxford Learners Pocket Dictionary, (Oxford University press, 1983), hlm. 76.
[6]Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia: Pusat Bahasa, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, edisi ke: IV, 2008), hlm. 711.
[7]Variasi bahasa yang berbeda-beda menurut pemakainya.
[8]Variasi bahasa yang berhubungan dengan kelas sosial.
[9]Sumarsono, Sosiolinguistik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet: IV, 2008), hlm. 201.
[10]Yang terkait dengan bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya.
[11]Komponen bahasa yang memuat semua informasi tentang makna dan pemakaian kata dalam bahasa.
[12]Yang terkait dengan morfem dan kombinasinya.
[13]Yang terkait tentang susunan kalimat dan bagiannya.
[14]Hand out dosen pengampu mata kuliah Sosiolinguistik yang disampaikan pada minggu ketujuh dari jadwal perkuliahan, yakni pada tanggal 15-11-2011, tentang memahami teori alih kode dan campur kode.
[15]Mansoer Pateda, Sosiolinguistik, (Bandung: Angkasa, 1987), hlm. 83-84.
[16]Yaitu penggunaan dua bahasa (kode) oleh penutur (masyarakat tutur) dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian, sedangkan orang yang mempunyai kemampuan ataupun kompetensi dalam hal bilingualitas itu dikenal dengan sebutan bilingual.
[17]http://anaksastra.blogspot.com/2009/02/alih-kode-dan-campur-kode.html / diunduh pada  30 Desember 2011 pukul 9:37:46 AM.
[18]Rohmani Nur Indah & Abdurrahman, Psikolinguistik: Konsep & Isu Umum, (Malang:UIN-Malang Press, 2008), hlm. 73.
[19]Abdul Chaer & Leonie Agustina, Sosiolinguistik (perkenalan awal-edisi revisi), (Jakarta: Rineka Cipta, cet: ke II, 2004), hlm. 107.
[20]Mansoer Pateda, Sosiolinguistik, (Bandung: Angkasa, 1987), hlm. 85.
[21]Abdul Chaer & Leonie Agustina, Sosiolinguistik (perkenalan awal-edisi revisi), (Jakarta: Rineka Cipta, cet: ke II, 2004), hlm. 107-108.
[22]Hand out dosen pengampu mata kuliah Sosiolinguistik yang disampaikan pada minggu ketujuh dari jadwal perkuliahan, yakni pada tanggal 15-11-2011 tentang memahami teori alih kode dan campur kode.
[23]Abdul Chaer & Leonie Agustina, Sosiolinguistik (perkenalan awal-edisi revisi), (Jakarta: Rineka Cipta, cet: ke II, 2004), hlm. 114.
[24]Yakni kemampuan komunikatif dalam menguasai bahasa ibu dan / bahasa ke-2/3/4, dengan berbagai macam variasi dan ragamnya.
[25]Abdul Chaer & Leonie Agustina, Sosiolinguistik (perkenalan awal-edisi revisi), (Jakarta: Rineka Cipta, cet: ke II, 2004), hlm. 108-114.
[26]http://indonesiasaram.wordpress.com/2007/01/06/campur-kode/ diunduh pada 9 Januari 2012 pukul 9:05:32 PM.
[27]Hand out dosen pengampu mata kuliah Sosiolinguistik yang disampaikan pada minggu ketujuh dari jadwal perkuliahan, yakni pada tanggal 15-11-2011 tentang memahami teori alih kode dan campur kode.
[28]Rohmani Nur Indah & Abdurrahman, Psikolinguistik: Konsep & Isu Umum, (Malang:UIN-Malang Press, 2008), hlm. 73.
[29]Yakni satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi dari morfem tungggal atau gabungan, contoh: batu, datang, mahakuasa, dll).
[30]Yakni kelompok kata.
[31]Atau dikenal dengan istilah S (subjek) P (predikat) O (objek) K (keterangan).
[32]Abdul Chaer & Leonie Agustina, Sosiolinguistik (perkenalan awal-edisi revisi), (Jakarta: Rineka Cipta, cet: ke II, 2004), hlm.114-115.

[33]Ni Nyoman Garminah, Campur Kode Dalam Pemakaian Bahasa Bali Pada Etnik Jawa Di Desa Tegallingah, Buleleng, dalam http://www.google.co.id/search?q=campur+kode+dalm+bahasa+bali&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:id:official&client=firefox-a, diunduh pada  30 December 2011 pukul 10:17:28 AM.

[34]Yakni ilmu tentang bahasa
[35]Hand out dosen pengampu mata kuliah Sosiolinguistik yang disampaikan pada minggu ketujuh dari jadwal perkuliahan, yakni pada tanggal 15-11-2011 tentang memahami teori alih kode dan campur kode.